Renungan Bagi Yang Sibuk dengan Pekerjaan

Discussion in 'Out of Topic' started by widuri2005, Feb 13, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. widuri2005

    widuri2005 Active Member

    Messages:
    251
    Likes Received:
    99
    Trophy Points:
    38
    Sebelumnya mohon maaf jika mungkin salah tempat silakan di moved / delete
    Ini hanya sekedar sharing note punya teman di facebook. Barangkali ada manfaatnya


    Renungan, kepada mereka yang sibuk berkarir....

    Seperti biasa Toni, Kepala Cabang sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Nanda, putra pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

    “Kok belum tidur?” sapa Toni sambil mencium kening anaknya. Biasanya Nanda sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Nanda menjawab, “Aku menunggu Ayah pulang, sebab aku mau bertanya berapa sih gaji Ayah.”

    “Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah segala? Mau minta uang lagi, ya?”

    “Ah, enggak. Pengin tahu aja.”

    “Boleh, kamu hitung saja sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,- Dan setiap bulan rata-rata Ayah bekerja selama 25 hari. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

    Nanda berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Toni beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Nanda berlari mengikutinya.

    “Kalau satu hari Ayah dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Ayah digaji Rp. 40.000,- dong,” katanya.

    “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Toni. Tapi Nanda tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Nanda kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- nggak?”

    “Sudah, nggak usah macam-macam. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

    “Tapi, Ayah…”

    Kesabaran Toni habis. Pekerjaan di kantornya seharian ini betul-betul menguras tenaganya.

    “Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Nanda. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

    Usai mandi, Toni nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Nanda di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Nanda didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangan yang satu dan mainan ular tangga di tangan lainnya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Toni berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Nanda. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- saja, lebih dari itu pun Ayah beri.”

    Tangis Nanda langsung berhenti. Ia bangkit dan duduk sambil memandang ayahnya.

    “Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

    “Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Toni lembut.

    “Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. 30 menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau membeli waktu Ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp. 15.000,- Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam berarti Rp. 20.000,- Uang tabunganku kurang Rp. 5.000,- Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Nanda polos.

    Toni terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah itu erat-erat. Matanya berkaca-kaca.
     
  2. cryptex

    cryptex Active Member

    Messages:
    89
    Likes Received:
    73
    Trophy Points:
    28
    Gue jd trharu..hikz..3x.tq gan
     
  3. linderman

    linderman New Member

    Messages:
    176
    Likes Received:
    17
    Trophy Points:
    0
    hiks... sungguh mengaharukan... nice share :clap::clap:
     
  4. beni_joss

    beni_joss New Member

    Messages:
    307
    Likes Received:
    131
    Trophy Points:
    0
    hik...hik...hik....
    aq yg nganggur ga pernah mainan ma anakku..:frusty:
     
  5. adolf

    adolf Member

    Messages:
    14
    Likes Received:
    4
    Trophy Points:
    13
    jadi terharu juga ...........:(
     
  6. Karismahejo

    Karismahejo Active Member

    Messages:
    399
    Likes Received:
    95
    Trophy Points:
    38
    Telhaluu..hikz..jd pengen pnya anak xexexe
     
  7. kacwo

    kacwo New Member

    Messages:
    14
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    0
    sungguh mengharukan bos,nice share :clap::clap::clap::clap::clap:
     
  8. njum

    njum *TUKANG RONDA* Premium Member

    Messages:
    1,396
    Likes Received:
    922
    Trophy Points:
    123
    God share Bos, jadi inget ma anak di rumah euy....:cry::cry::cry::D
     
  9. supergotenks

    supergotenks Beginner Member™ Super Member

    Messages:
    964
    Likes Received:
    3,439
    Trophy Points:
    0
    :cry::cry::cry:
    sanagat mengharukan
    :cry::cry::cry:
    :cry::cry::cry:
     
  10. jimbluk

    jimbluk New Member

    Messages:
    149
    Likes Received:
    16
    Trophy Points:
    0
    Sungguh renungan yang baik, kadang kala kita mengukur sesuatu dengan uang dan uang mengalahkan perhatian keluarga yang sebenarnya hanya 1/10. kalau ada yang lain di share lagi dong :thumb::cry:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page