Rakyat Sudah Tahu, Ini Cuma Drama

Discussion in 'Out of Topic' started by Jaka_kentir, Feb 21, 2012.

  1. Jaka_kentir

    Jaka_kentir Moderator Moderator

    Messages:
    375
    Likes Received:
    25
    Trophy Points:
    0
    [​IMG]


    KOMPAS.com - "Sudahlah, Nazaruddin dan kawan-kawan
    itu biar rakyat sajalah yang
    mengadili. Kami sudah bosan
    mereka itu disidang lama-
    lama. Rakyat sudah tahu, ini
    cuma drama saja. Kalau dia ke sini, barang kali saya pukuli.
    Mereka garong, tetapi tidak
    mau mengaku garong!” Kekesalan itu meluncur dari
    mulut Dawiso (46), petani dari
    Desa Suranenggala Lor,
    Kecamatan Suranenggala,
    Kabupaten Cirebon, Jawa
    Barat, Kamis (16/2/2012) pagi. Kiranya Dawiso marah betul
    dengan kondisi negeri ini yang
    dipenuhi elite-elite politik dan
    ekonomi yang disebutnya
    ternyata garong! Kemarahan itu pun tak muncul
    tiba-tiba. Semua bermula dari
    curahan hatinya mengenai
    saluran irigasi yang rusak dan
    kerugian yang dideritanya
    karena harus menanam ulang padi di sawahnya. Januari lalu,
    sawahnya kebanjiran. ”Saya
    sudah rugi pembibitan karena
    terendam air hujan. Kira-kira
    saya rugi sampai Rp 2 juta.
    Yang mahal itu, kan, ongkos buat buruh tanamnya, satu
    orang Rp 25.000 per hari,”
    katanya. Petani di kawasan itu sudah
    lama mengeluh soal kondisi
    irigasi buruk. Saat musim
    hujan, sawah mereka
    kebanjiran. Di musim kemarau
    mengalami kekeringan. ”Coba, bagaimana nasib
    petani ini. Harga beras sudah
    Rp 9.500 per kilogram. Kalau
    sehari bisa mendapatkan Rp
    50.000 saja, istri di rumah
    bingung harus membagi-bagi uang untuk beli beras, uang
    saku anak, dan bayar lain-
    lain,” katanya dengan nada
    mulai tinggi. Pikirannya makin kalut saat
    bercerita soal tikus yang mulai
    menyerang tanamannya.
    Selain irigasi buruk, petani di
    kawasan itu dibuat pusing oleh
    serangan tikus. Untuk membasmi binatang pengerat
    itu, petani harus
    mengeluarkan biaya tambahan
    sampai Rp 500.000 per hektar
    (ha) setiap satu musim tanam
    untuk membeli pestisida. ”Yang beginian, kan, tidak
    mengerti mereka itu, para
    pimpinan negeri. Saya bosan
    lihat acara debat orang-orang
    pintar di televisi. Saya tahu
    karena setiap hari menonton televisi. Debat-debat terus,
    tetapi tidak ada perhatian
    kepada petani. Nasib petani
    makin miskin, yang di atas
    (pejabat) terus saja korupsi,”
    ungkap Dawiso. Seorang petani lain tak lama
    datang menghampiri Dawiso
    setelah mendengar ”ribut-
    ribut” di dekat kali irigasi.
    Diskusi ”politik” ala rakyat
    kecil itu pun kian semarak. Rekannya itu lalu buru-buru
    menimpali, ”Iya benar,
    tolong itu biar Pak Presiden
    dengar nasib petani di sawah.
    Masak yang korupsi miliaran
    dibiarkan, lalu yang maling ayam ditembak kakinya,
    ditembak dadanya. Kan, ini
    akal-akalan. Semua rakyat ini
    sudah tahu, sudah banyak lihat
    televisi,” katanya. ”Petani itu maunya makan
    cukup, bisa menyekolahkan
    anak, hasil panen bagus. Dulu,
    sewaktu kecil, saya ingat air
    kali selalu penuh. Kini,
    susahnya minta ampun untuk mendapat air buat tanaman,”
    kata Dawiso. Terasa benar para petani itu
    menjerit dalam hati. Beberapa
    kali suara Dawiso bergetar.
    Tangannya beberapa kali
    mengepal. Betapa tidak, ketika
    mereka harus memikirkan uang untuk biaya makan
    sehari-hari, ada realitas lain
    yang menunjukkan potensi
    raibnya miliaran rupiah uang
    negara ke kantong-kantong
    orang tertentu. Kekesalan Dawiso adalah potret kecil
    kekecewaan rakyat terhadap
    situasi saat ini. ”Jika kondisi tak juga
    berubah, orang akan kian tak
    percaya dengan sistem yang
    ada. Mereka hilang
    kepercayaan pada sistem
    hukum dan demokrasi itu sendiri. Ini bukan hal baru.
    Kita seperti menunggu waktu
    kekesalan dan kekecewaan itu
    memuncak. Bukan tak
    mungkin akan timbul revolusi
    sosial,” kata Dede Mariana, Guru Besar Ilmu Politik dari
    Universitas Padjadjaran
    Bandung. Dede berharap
    pemerintah segera sadar dan
    memperbaiki keadaan.


    Sumur Bor
     
  2. andra108

    andra108 New Member

    Messages:
    5
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    jadi kyak sinetron yak...
    yang kasian rakyatnya disuguhi tontonan beginian tiap hari...
     
  3. sinyal_kuat

    sinyal_kuat New Member

    Messages:
    2
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    cepat atau lambat tragedi 1998 akan terulang
     
  4. gudang_gandum

    gudang_gandum New Member

    Messages:
    10
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    kaya sinetron aja, kayaknya para pemimpin kita suka nonton sinetron makanya suka bikin skenario
     
  5. mbahgoole

    mbahgoole New Member

    Messages:
    5
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    sampai sekarang pun masih belum selesai :(
     

Share This Page